Manohara, Kelantan prince may make up

Good Samaritan Malaysian Datuk helped Indonesia Princess

By Lee Wei Lian

20090430193136_kadar4PETALING JAYA, June 5 — Datuk Kadar Shah Sulaiman, the man who helped Indonesian beauty Manohara Odelia Pinot escape her Kelantan prince, now says that a break is just what the couple need now and alluded to a possible reconciliation.

“A cooling-off period of a few weeks or months and they may fall back in love,” Kadar Shah told The Malaysian Insider from Jakarta last night.

“You know these type of love affairs, how they are. And Manohara is still so young. She’s a princess now and may miss palace life,” said the Muar Umno branch chief.

running_awayHe said, however, that if it still does not work out after a few months’ break, then the couple should divorce.

The marital spat between Tengku Temenggong Tengku Mohamad Fakhry Petra and the 17-year-old model has created a sensation in both Southeast Asian countries.

Manohara has claimed that she was physically and sexually abused while the Kelantan palace has insisted that it is a private matter between husband and wife.

Kadar Shah was the go-between the Kelantan palace and Manohara’s family and claimed he was “given the blessing” of the palace to sort the matter out.

It took two months of planning and going back and forth before Manohara’s dramatic escape in Singapore last Saturday.

Kadar Shah said he tried to work out a deal and get both sides to compromise and convince the prince to allow Manohara to meet her mother Daisy Fajarina.

manohara saveThe mother has been appearing on Indonesian TV shows alleging that Manohara had been abused since her marriage to the Kelantan prince last August.

When the Sultan of Kelantan sought medical treatment in Singapore, Tengku Fakhry and Manohara went to Singapore to visit him.

Kadar Shah also went to Singapore and arranged a lunch where he said he managed communicate to Manohara despite the presence of Tengku Fakhry’s men.

“If you feel unhappy or unsafe, you have to korek (scratch) my hand when we shake hands.

“When we shook hands, she korek so hard, because you know, she has long finger nails,” he recalled.

“Even when she went to the toilet, she was followed. However, before she left she left a note on a piece of tissue: ‘I am not happy, please help me. I want to go home’.”

The tissue was shown by Kadar Shah on Indonesia TV.

“What I did was for the best for everybody,” said the Umno man.

AK : Bravo Datuk. Be careful, someone in Malaysia might think something else…

4 Comments

Filed under Global News, Malaysia News

4 responses to “Manohara, Kelantan prince may make up

  1. ENGKAU LAH WIRAKU….

  2. Malaysia Gagah Berani

    Indonesial National Anthem

    Indonesial tanah Cairku
    Tanah tumpah muntahku
    Disanalah aku merangkak hina
    Jadi kubur

    Indonesial negara miskin ku
    Bangsa Busuk dan Tanah Miskinku
    Marilah kita semua tidur
    Indonesial negara miskinku

    Mati lah tanahku
    Modar lah negriku
    Bangsaku Rakyatku semuanya
    Miskin lah jiwanya
    Tidurlah badannya
    Untuk Indonesial Miskin

    Indonesial Miskin
    Mampous Modar
    Datang kerja Malaysia
    Tapi TKI Jadi perampok
    Rompak Malaysia bawa wang ke Indon

    Indonesial Pendatang Haram
    Miskin lah Miskin lah
    Datang Haram ke Malaysia
    Tiada paspor
    Bila kena tangkap dan hantar balik
    Kata nya malaysia jahat

    Indonesial Negara Perampok
    Indonesial Menghantar perampok maling
    pekerja TKI Indonesial
    hantaq pi Malaysia

    Indonesial Maling
    Merampok lagu Malaysia
    Mengatakan itu lagu mereka

    Indonesial Tanah yang hina
    Tanah gersang yang miskin
    Di sanalah indon miskin Untuk slama-lamanya
    Indonesial Tanah puaka
    Puaka Hantu Kita semuanya
    Negara luas hasil bumi banyak tapi miskin
    Datang minta sedekah di Malaysia
    Marilah kita mendoa Indonesial brengset

    Gersang lah Tanahnya mundurlah jiwanya
    Bangsanya Rakyatnya semuanya
    Tidurlah hatinya Mimpilah budinya
    Untuk Indonesial Miskin

    Indonesial Tanah yang kotor Tanah kita yang Malang
    Disanalah aku tidur selamanya bermimpi sampai mati
    Indonesial! Tanah Malang Tanah yang aku sendiri benci
    Marilah kita berjanji Indonesial miskin

    Mati lah Rakyatnya Modar lah putranya
    Negara Miskin Tentera Coma pakai Basikal
    Miskinlah Negrinya Mundur lah Negara nya
    Untuk Indonesial kurap

  3. Malaysia Gagah Berani

    Jumat, 12/06/2009 16:05 WIB
    Pakar: Indonesia Sudah ‘Kalah’ Perang Lawan Malaysia
    Bagus Kurniawan – detikNews
    (Foto: dok Rumgapres) Yogyakarta – Indonesia telah teruji melakukan beberapa kali peperangan melawan kekuatan asing atau negara lain seperti melawan Belanda, Jepang, Malaysia, pembebasan Irian Jaya dan Timor Timur. Namun di atas kertas melawan kekuatan Malaysia dan sekutunya, Indonesia lebih banyak kalah.
    Hal itu diungkapkan oleh pakar militer Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Nanang Pamudji dalam diskusi di kantor Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Blimbingsari, Terban, Yogyakarta, Jumat (12/6/2009).
    “Ini terlepas dari masalah nasionalisme, Indonesia itu kalah melawan Malaysia. Dan Malaysia kenyataannya masih tetap ada,” ungkap Nanang.
    Menurut Nanang berdasakan atas pengalaman, kekuataan Indonesia sudah teruji
    yakni ketika berperang dengan Belanda saat pembebasan Irian Jaya dan Timor Timur pada tahun 1970-an.
    Namun ketika Bung Karno mengumandangkan ‘Ganyang Malaysia’ untuk mengganyang kekuatan neokolonialisme yang diwakili Malaysia ternyata tidak bisa. Malaysia dan sekutu-sekutunya ternya masih tetap ada sampai sekarang.
    “Malaysia ternyata masih ada dan kuat sampai sekarang. Singapura boleh dikata merupakan negara yang paling kuat di Asia Tenggara untuk persenjataannya. Sekutu-sekutunya seperti AS, Australia juga masih berada di belakang mereka dan terus bermain serta mengawasinya. Bila Indonesia berani berperang lawan mereka dalam sesaat akan habis,” jelasnya.
    Nanang menambahkan konsep pembangunan pertahanan dan kemiliteran Indonesia buruk karena tidak ada perencanaan yang matang. Kasus sengketa Ambalat dengan Malaysia hendaknya dapat menjadi review politik pertahanan Indonesia ke masa depan.
    “Harus ada review ulang konsep pertahanan kita terutama mengenai konsep jangka pendek, menengah dan panjang, tidak boleh sesaat saja. Kita tidak bisa hanya berpikir soal wilayah Ambalat saja, wilayah Indonesia itu luas” kata Nanang.
    Meski Indonesia sudah mempunyai buku putih mengenai pertahanan dan keamanan
    lanjut Nanang, harus perbaikan secara menyeluruh yang fokus pada penangkalan. Namun buku putih itu hanya kalangan militer saja yang mengtahui. Padahal kalangan sipil terutama akademisi perlu diajak untuk membahasnya.
    “Kalau ditanya untuk dijabarkan, mereka menjawab tidak bisa. Itu rahasia negara. Padahal dimana-mana menteri pertahanan itu dari sipil, mereka juga ikut merumuskan,” papar staf pengajar Fisipol UGM itu.
    Dia mengatakan pembelian atau pengadaan peralatan atau persenjataan militer di dunia ketiga termasuk Indonesia bukan semata-mata untuk pertahanan dan keamanan. Namun lebih banyak untuk mendapatkan komisi karena banyak broker-broker senjata yang ikut bermain.
    Ada banyak kasus seperti itu terjadi di negara dunia ketiga seperti di Indonesia, Thailand dan Timur Tengah. Komisi yang didapatkan juga sangat besar.
    “Lihat saja Adnan Kashogi di Arab yang dilindungi AS, di Indonesia zaman Orde Baru juga ada seperti itu. Yang jadi broker juga banyak dari lingkaran keluarga Soeharto. Dan kasus-kasus sekarang juga banyak melibatkan broker-broker senjata dari Indonesia,” pungkas dia.
    Andaikan hari ini perang benar-benar terjadi antara Malaysia dan Indonesia untuk mempertahankan Ambalat, saya yakin Indonesia akan kalah. Begini alasannya. Lihatlah peralatan militer negara kita, sudah usang, rapuh, dan tidak aman. Buktinya dalam dua bulan terakhir ini sudah 4 pesawat TNI yang jatuh dan memakan banyak korban jiwa, khususnya para prajurit terbaik bangsa. Mereka harus gugur bukan karena berperang, tetapi karena faktor teknis pesawat yang sudah tidak aman lagi untuk diterbangkan. Itu baru pesawat udara, kondisi yang sama juga terdapat pada kapal tempur di lautan. Hampir semuanya berusia tua, lamban, dan kurang didukung peralatan canggih. Embargo militer dari AS membuat Indonesia tidak bisa memperbarui peralatan militernya. Banyak onderdil peralatan militer tidak bisa dibeli dari Amerika, akhirnya prinsip kanibalisme pun berlaku. Onderdil peralatan yang satu dicomot dari peralatan yang lain yang tidak terpakai untuk menyiasati onderdil yang tidak bisa dibeli dari AS. Benar-benar menyedihkan. Jadi, bagaimana mau bertempur dengan kondisi peralatan militer yang pas-pasaan itu?
    Malaysia, meski negaranya lebih kecil dari Indonesia, tetapi lebih makmur. Dengan kondisi keuangan mereka yang lebih baik, diam-diam mereka mempercanggih peralatan militer sembari mengamat-amati kondisi militer negara tetangga. Sebagai test case, mereka memprovokasi kapal perang TNI di perairan Ambalat. Maksudnya sih untuk melihat sejauh mana kesiapan dan kecanggihan kapal tempur TNI itu.
    Orang-orang Indonesia yang geram dan marah melihat Malaysia memprovokasi TNI di Ambalat tergugah pula rasa nasionalismenya. Kemarahan itu sebenarnya sudah disulut sejak lama, sejak para TKI kita menjadi bulan-bulanan penyiksaan para majikan di Malaysia. Begitu rendah nilai orang Indonesia di mata orang Malaysia, sehingga di Malaysia para TKI itu dipanggil Indon. Isu TKI belum habis, muncul pula klaim dari Malaysia yang membajak karya budaya yang dianggap milik Indonesia, seperti batik, angklung, reog, lagu rakyat Maluku, dan sebagainya. Lalu terakhir isu si cantik jelita Manohara ikut pula memanasakan suasana. Kloplah semua itu untuk memantik semangat heroik para pemuda. Dimana-mana muncul pasukan sipil dadakan, pasukan bela diri, atau pasukan berani mati yang siap berperang melawan Malaysia. Dengan rasa marah yang memendam, mereka siap dikirim ke Ambalat untuk bertempur. Semangat sih boleh saja, tetapi saya kira sia-sia saja usaha mereka itu. Mau berperang dengan Malaysia pakai apa mereka itu? Pakai bambu runcing atau senjata rakitan? Jelas mereka akan mati duluan dibom pesawat tempur Malaysia yang canggih itu.
    Dari segi jumlah penduduk Indonesia memang jauh lebih banyak daripada Malaysia. Mungkin kalau perang langsung satu lawan satu dengan rakyat Malaysia jelas Indonesia akan menang, tetapi itu kan perang zaman kuno. Sekarang ini perang zaman modern adalah perang antara militer dengan militer, peralatan canggih versus peralatan pas-pasan. Diatas kertas jelas negara yang mempunyai peralatan tempur yang canggih yang akan menang. Jumlah penduduk negara tidak punya peranan penting. Lihatlah Israel, negara mini di Timur Tengah, tetapi mereka mampu mengalahkan negara-negara Arab dalam perang 6 hari pada tahun 1960-an ketika merebut dataran tinggi Golan, padahal penduduk Israel hanya beberapa juta jiwa, namun mereka mempunyai senjata ultramodern yang tidak dimiliki oleh negar-negara Arab.
    Jadi, kalau melawan Malaysia, Indonesia harus berpikir ulang 999 kali sebelum benar-benar membunyikan genderang perang. Jangan-jangan nanti kita dipermalukan negara kecil itu karena kalah.
    Yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana memikirkan keselamatan para prajurit TNI itu. Janganlah mereka mati sia-sia lagi karena menaiki kendaraan militer yang tidak aman. Saya miris setiap kali melihat episode keluarga prajurit itu yang bersimbah air mata ketika ayah atau suami mereka dimasukkan ke liang lahat. Kita mungkin hanya bisa bergumam: kasihan, sesudah itu kita sudah lupa dengan peristiwa itu sebelum nantinya dikejutkan lagi dengan peristiwa yang sama untuk kesekian kalinya. Kita sudah lupa dengan nasib anak-anak mereka yang masih kecil atau istri mereka yang jadi janda yang hidup berdesakan-desakan di barak-barak sempit. Masa depan keluarga TNI yang tewas karena kecelakaan itu menjadi suram karena sang pencari nafkah mati sebelum berperang.
    Jadi, daripada memikirkan perang melawan Malaysia, mengapa tidak memikirkan keselamatan para prajurit dan keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s